Maya Nugroho's Notes
Welcome to my blog
Let's talk about food and life!
Home » » Mengenal Lebih Dalam : Kental Manis itu Susu atau Bukan, Sih?

Mengenal Lebih Dalam : Kental Manis itu Susu atau Bukan, Sih?

Written By mayanugroho18 on Selasa, 12 Februari 2019 | Februari 12, 2019


Halo, ketemu lagi nih sama postingan hamba! How’s life? Semoga readers teteup sehat yaa. Gong xi fa chai nihh buat readers yang merayakan! Angpao bisa dikirim via transfer kok, hihihi.
Oke, daripada makin kemana-mana, yuk kembali ke judul postingan kali ini. Sebenernya aku sempat adain polling nih di Instagram Story enaknya ngebahas tentang apa di blog. Nah, ada seorang temen yang request ngebahas tentang isu susu kental manis yang sempet heboh di kalangan netizen. Mungkin uda pada tau kesimpulannya ya, readers¸tapi aku kepengen aja sekedar me­-refresh ingatan dan syukur-syukur kalau ada tambahan pengetahuan buat readers yang belum tau.
source: google.com

            Susu Kental Manis (SKM) atau Sweet Condensed Milk berdasaran SNI 2971 : 2011 adalah produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh dari campuran susu dan gula dengan menghilangkan sebagian airnya hingga mencapai kepekatan tertentu atau hasil rekonstitusi susu bubuk dengan penambahan gula dengan/atau tanpa penambahan bahan pangan lain dan bahan tambahan pangan yang diizinkan. SKM sendiri diklasifikasikan lagi menjadi susu skim kental manis, susu skim sebagian kental manis, dan susu kental manis tinggi lemak. Bedanya, jika susu skim kental manis berbahan baku susu skim, maka susu skim sebagian kental manis bahan bakunya sebagian berupa susu skim. Ingat ya, hanya sebagan. Sedangkan susu kental manis tinggi lemak berbahan baku susu yang ditambah dengan lemak susu. Jadi, secara logika sudah kelihatan kalau kandungan lemaknya lebih tinggi karena penambahan tersebut.

            Jadi, SKM itu susu atau bukan? Sesuai pengertian di atas, SKM adalah PRODUK SUSU. Beda loh ya susu dengan produk susu, readers. Keju dan yoghurt adalah produk susu, karena mengandung susu. Tapi mereka bukan susu, kan? Sama halnya dengan SKM. Kalau dosenku dulu menggambarkannya, “SKM itu kandungannya sebagian besar gula. Nutrisinya diambil untuk fortifikasi (penambahan zat gizi) susu lain, misalnya susu formula bayi.” Nah, sudah punya gambaran kasarnya kan, readers?
source: google.com
            Readers, penasaran dengan bagaimana pembuatan SKM? Untuk pembuatannya sendiri secara garis besar, langkah pertama yaitu susu dipanaskan pada suhu 65-95°C selama 10-15 menit agar susu stabil selama penyimpanan dan juga membunuh mikroba patogen serta menonaktifkan enzim. Kemudian gula ditambahkan hingga konsentrasinya mencapai 62,5%, lalu diuapkan dengan evaporator vakum (tekanan 47 mmHg dan suhu 51°C) hingga diperoleh kekentalan yang dikehendaki. Selanjutnya, SKM dimasukkan ke dalam kaleng dan dilakukan penutupan kaleng.
Sebenarnya produk SKM yang beredar di masyarakat sendiri sudah sesuai dengan standar baku yang ditetapkan pemerintah. Hanya saja, visualisasi dalam packaging serta iklan produk-produk tersebut dimungkinkan menimbulkan persepsi yang salah. Apalagi dengan rendahnya tingkat literasi masyarakat terhadap topik pangan, menjadikan isu yang sebenarnya simpel menjadi polemik. Kemenkes bersama dengan BPOM sendiri sebenarnya sudah menghimbau produsen tentang label dan kemasan produk mereka. Dalam surat edaran pada 22 Mei 2018 yang dikeluarkan oleh BPOM terdapa himbauan tentang label dan iklan SKM sebagai berikut:
1.    Dilarang menampilkan anak usia di bawah 5 tahun dalam bentuk apapun
2.    Dilarang menggunakan visualisasi bahwa produk Susu Kental dan Analognya disetarakan dengan produk susu lain sebagai penambah atau pelengkap zat gizi
3.    Dilarang menggunakan visualisasi gambar susu cair dan/atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman
4.    Khusus untuk iklan, dilarang ditayangkan pada jam tayang acara anak-anak.
Jadi, jika readers menemukan label dan iklan yang belum sesuai dengan himbauan tersebut, readers bisa mengklarifikasi ke pihak terkait. Selama kita sebagai konsumen memiliki dasar, kita bisa meminta klarifikasi bahkan mengingatkan produsen.
            Mengapa pemerintah melarang visualisasi seperti itu? Karena pemikiran masyarakat yang berasumsi bahwa SKM adalah produk susu seperti susu lainnya dan dapat dikonsumsi oleh anak-anak. Oh, tidak begitu pemirsa. SKM tidak dianjurkan untuk dikonsumsi (terutama dijadikan minuman) oleh bayi dan anak. Bayi dan anak-anak membutuhkan lemak lebih banyak untuk membantu pertumbuhannya. Dikutip dari buku “Food in Health and Disease” oleh Nathan S. Davis, lemak yang terkandung di dalam SKM sangat sedikit, bahkan beberapa produk akan kurang dari 1%. Adanya gula tambahan pada SKM (gula tebu) dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Selain itu, proses kondensasi dalam pembuatan SKM tidak selalu dapat membunuh mikroba patogen, namun membuatnya dalam fase dorman dan jika suhu kembali optimal maka mikroba tersebut dapat aktif kembali. Bayi yang mengkonsumsi SKM juga sering terlihat pucat dan daya resistensinya terhadap penyakit tergolong rendah.
Sadar atau tidak, banyak masyarakat menelan mentah-mentah iklan tanpa mempelajari dahulu produk tersebut. Pernah beberapa kali aku merasa sedih saat bertemu dengan orang-orang yang mengatakan “kan itu juga susu, sama kayak susu yang lain”. Untuk orang yang nggak terlalu dekat denganku atau lebih tua, aku meluruskan secara sopan, meskipun reaksi mereka jadi agak skeptis (bahkan kadang menyiratkan ‘ah sotoy lu’). Tapi untuk yang akrab dan sepantaran (bahkan si bapaknya tole juga pernah kena semprot) spontan ngegas “WOY ITU ISINYA CUMAN GULA WOY” :’) Karena ide dari teman ini menurutku bagus untuk dibahas, aku harap readers sekarang tidak hanya paham perbedaan SKM dengan susu biasa, tapi juga bisa mengedukasi keluarga, teman, bahkan lingkungan kalian dengan hal-hal sederhana seperti ini tapi vital untuk kesehatan kita.
Baiklah, sekian postingan dariku yang kayaknya uda mulai panjang :’) see you on  my another post dan komen saja ya di kolom komentar jika ingin sharing seputar postingan ini!

SHARE

About mayanugroho18

0 komentar :

Posting Komentar